Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
pro rumah

We're Profesional

Hubungi Kami
Selamat Berbelanja di Prorumah.com , Dapatkan garansi serta potongan harga menarik untuk pembelian dalam jumlah tertentu !!!

Definisi Batu Belah dan Jenis-jenis Batu Lainnya Untuk Pondasi Konstruksi Bangunan

Batu belah merupakan jenis batu yang berasal dari bongkahan batu berukuran besar, yang kemudian dipecah dengan mesin penghancur sehingga menjadi bongkahan-bongkahan batu dengan ukuran ang beragam. Setelah itu, bongkahan batu tersebut akan disortir yang berdasarkan ukuran dan dikelompokkan dalam ukuran yang sama.

Karakteristik dari batu pondasi yang satu ini tampil dengan beragam warna, seperti kehitaman, hitam, coklat keputihan dan tergantung dari daerah pegunungan maupun perbukitan asalnya. Batu belah memang sangat ideal dijadikan konstruksi pondasi, karena memiliki sifat yang tidak mudah mengalami perubahan bentuk, serta kualitasnya yang tetap terjaga meski tertanam di dalam tanah.

Pengertian Batu Belah


Batu belah juga kerap disebut dengan istilah “batu split”, yang merupakan salah satu jenis batu bahan material bangunan yang didapat dengan cara dibelah atau dipecah sehingga membuat ukurannya menjadi lebih kecil dan bervariasi.

Secara umum, fungsi utama pada batu belah ini sebagai bahan campuran utama untuk pembuatan pondasi. Tak hanya batu belah, masih ada lagi peran material lainnya dalam pembuatan pondasi bangunan seperti pasir, semen yang kemudian dicampur dengan air.

1. Manfaat Batu Belah


Meski sering digunakan untuk bahan campuran beton cor, ternyata batu belah juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi lainnya, seperti proses pengaspalan, pembuatan bahan beton pemecah ombak, bahan reklamasi pantai, bahan untuk membuat dermaga kecil, hingga bisa digunakan sebagai pengganti pasir.

Keunggulan Batu Belah

  • Batu belah mempunyai kualitas yang sangat mumpuni, sehingga cocok digunakan untuk pondasi menerus dan pondasi umpak.
  • Berkat ukurannya yang bervariasi, batu belah ini bisa mengikuti lebar yang diinginkan secara rapi sehingga porsi beban yang akan diberikan terhadap pondasi menjadi lebih optimal.

Jenis-jenis Batu Belah yang Harus Kalian Ketahui

  • Batu Belah Ukuran 0 – 5 mm

Batu belah yang dipecah atau dihancurkan dengan ukuran yang paling kecil ini sering disebut “abu batu”, dimana fungsinya bisa digunakan sebagai pengganti pasir. Ukuran tersebut memiliki partikel yang mirip dengan pasir lembut, sehingga membuatnya ideal digunakan untuk campuran dalam proses pengaspalan, bahan utama untuk membuat gorong-gorong, serta bahan pembuatan batako press.

  • Batu Belah Ukuran 5 – 10 mm Atau 3 / 8 cm

Material batu belah yang kedua ini banyak dimanfaatkan untuk campuran dalam proses pengaspalan jalan, mulai dari jalan yang ringan hingga jalan kelas 1. Pada umumnya, ukuran batu ini akan dicampur dengan aspal menjadi Aspal Mixed Plant atau Aspal Hot Mixed.  

  • Batu Belah Ukuran 10 – 20 mm

Jenis batu belah yang berikutnya ini kerap digunakan untuk bahan pengecoran dari konstruksi yang ringan hingga konstruksi berat. Bangunan yang dikerjakan dengan beton cor dari material batu belah ukuran 10 – 20 mm ini diantaranya adalah:

- Bangunan bertingkat tinggi

- Landasan pacu pesawat terbang

- Jalan tol

- Bantalan kereta api

- Pelabuhan

- Dermaga

- Tiang pancang

- Jembatan

Tak hanya itu, material belah ukuran 10 – 20 mm juga sering digunakan untuk bahan pengecoran lantai dan pembetonan horizontal lainnya.

  • Batu Belah Ukuran 30 – 50 mm

Jenis batu belah berukuran 30 – 50 mm ini biasanya digunakan sebagai dasar badan jalan kontraktor menggunakan bahan material lain, penyangga bantalan kereta api, pemberat pipa di dasar laut, beton cor pemecah ombak dan lain  sebagainya.

  • Batu Belah Agregat A

Batu belah agregat A merupakan jenis sirtu (pasir batu), yang merupakan campuran antara beragam ukuran batu belah. Ya, diantaranya adalah abu batu, pasir, batu belah ukuran 10 – 20 mm, batu belah ukuran 20 – 30 mm, dan batu belah ukuran 30 – 50 mm.

Kendati demikian, tidak ada kepastian mengenai komposisi yang digunakan pada masing-masing bahannya. Dengan kata lain, komposisi campuran tersebut akan disesuaikan dengan jenis penggunaannya. Umumnya batu belah agregat A akan digunakan untuk bahan pengecoran dinding, pembuatan dinding, dan campuran bahan beton cor.

  • Batu Belah Agregat B

Tak berbeda jauh dengan agregat A, dimana batu belah agregat B ini juga masih termasuk jenis sirtu. Komposisi materialnya terdiri dari beberapa ukuran batu split, tanah, abu batu, pasir, batu belah ukuran 10 – 20 mm, batu belah ukuran 20 – 30 mm, dan batu belah ukuran 30 – 50 mm.

Batu belah agregat B pada umumnya digunakan untuk bahan timbunan awal pengerasan jalan yang bertujuan untuk meratakan, serta mengikat lapisan batu belah yang diaplikasikan pada lapisan di atasnya.

  • Batu Belah Agregat C

Menurut informasi yang didapat, batu belah agregat C ini sering juga disebut dengan istilah “asalan”. Adapun mengenai material yang digunakannya seperti berbagai ukuran batu split, tanah, abu batu, pasir dan batu belah ukuran apa saja dengan komposisi yang tidak beraturan.

Itu sebabnya, mengapa batu belah agregat C dinamai dengan “batu asalan”. Batu agregat C itu sendiri biasanya digunakan untuk bahan timbunan pada pengerukan lahan, reklamasi dan lain sebagainya.

  • Batu Gajah

Elephant stonem alias batu gajah ini merupakan jenis batu belah yang memiliki ukuran paling besar dibanding jenis batu belah diatas tadi. Mengingat ukurannya yang begitu besar, batu gajah pun sering digunakan untuk menimbun lahan atau lokasi yang berdekatan dengan bibir pantai.

Jenis batu gajah berfungsi sebagai pemecah ombak, bahan reklamasi pantai, bahan untuk pembuatan dermaga kecil, atau yang umumnya digunakan sebagai bahan pondasi bangunan.

Persyaratan Batu Belah yang Ideal Untuk Pondasi Bangunan

Dikarenakan batu belah pada umumnya digunakan sebagai konstruksi pondasi, tentu saja terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhinya seperti dibawah ini :

  • Batu belah harus memiliki permukaan yang kasar. Mengapa demikian? Pasalnya, permukaan batu yang kasar tersebut akan menghasilkan ikatan yang sangat kokoh.
  • Batu belah harus bersih dari kotoran, sehingga saat pembuatan pondasinya akan dibersihkan terlebih dulu dengan air.
  • Tidak disarankan untuk menggunakan batu belah yang berpori untuk bahan konstruksi pondasi.
  • Batu belah harus berukuran kurang lebih 25 cm.

2. Batu Bulat


Sesuai dengan namanya, jenis batu yang satu ini tampil dengan bentuk bulat yang begitu kokoh dan kuat sehingga ideal digunakan untuk menopang struktur bangunan. karakter batu bulat ini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, cukup keras, bersih dan tidak lapuk.

3. Batu Blondos


Seperti halnya jenis batu belah, dimana batu blondos ini juga didapat dari daerah-daerah pegunungan. Namun, ukuran batu blondos jauh lebih kecil sehingga kerap dimanfaatkan untuk lapisan pondasi. Karakter batu ini sangat kuat, keras, bersih dan tidak mudah lapuk.

4. Batu Karang


Jenis batu pondasi berikutnya yang akan dibahas, yakni batu karang dengan ciri khas berwarna kehitaman, putih, dan kuning muda pada konturnya. Batu karang akan dibelah-belah agar saling mengikat satu sama lainnya, sehingga dapat menghasilkan pondasi yang kokoh.